Kembali ke Beranda
Profil Desa

Sejarah Desa Sarimulyo

Sejarah Desa Sarimulyo

Sejarah dan Profil Desa Sarimulyo

Asal-Usul dan Sejarah (Babad Tanah Pacingkerep)

Asal-usul Desa Sarimulyo bermula dari kisah seorang pemuda pengembara asal Gagatan Wonosegoro bernama Cokro Menggolo. Saat mengembara, ia memutuskan menetap di sebuah area yang di sekeliling pohon Sambinya banyak ditumbuhi tanaman Pacing—tanaman keras menyerupai tebu pendek berdaun lebar yang menyulitkan pembangunan rumah. Awalnya, Cokro Menggolo membuat rumah panggung di atas pohon Sambi, sementara pada pagi harinya ia menebangi tanaman Pacing untuk membuka lahan. Setelah lahan terbuka, rumah panggung itu dipindah ke bawah. Permukiman baru ini kemudian diberi nama Desa Pacingkerep, merujuk pada rapatnya tanaman Pacing di sana.

Seiring waktu, desa makin ramai dan Cokro Menggolo diangkat menjadi pemimpin pertama. Makamnya di selatan desa kini menjadi situs sejarah untuk ziarah dan doa bersama. Uniknya, lahan bekas rumah panggung pertamanya dibiarkan menjadi padang rumput alami (oro-oro) karena dipercaya tidak bisa ditanami tanaman produktif.

Pada era kepemimpinan Mbah Wirosutarto (sekitar tahun 1960-an), Desa Pacingkerep sempat dilanda pagebluk (wabah penyakit) hebat yang memakan banyak korban jiwa setiap harinya. Setelah menggelar doa bersama di Makam Cokro Menggolo, Mbah Wirosutarto bermimpi mendapat pesan agar warga mendekatkan diri kepada Allah SWT agar hidupnya menjadi mulio (makmur). Dari petunjuk mimpi dan musyawarah warga, nama Desa Pacingkerep resmi diubah menjadi Desa Sarimulyo. Setelah pergantian nama tersebut, wabah berangsur hilang dan masyarakat kembali hidup tenteram.

Wilayah Administratif dan Dampak Waduk Kedung Ombo

Perkembangan struktur administrasi Desa Sarimulyo sangat dipengaruhi oleh pembangunan Waduk Kedung Ombo yang menenggelamkan wilayah tetangganya, yakni Desa Ngrakum. Tiga dusun yang tersisa dari Desa Ngrakum, yaitu Dusun Sumberagung, Kedungwiyu, dan Guyuban, akhirnya digabungkan ke wilayah Desa Sarimulyo.

Penggabungan ini melengkapi lima dusun yang sudah ada sebelumnya, sehingga saat ini Desa Sarimulyo secara total membawahi 8 dusun:

  1. Dusun Sarimulyo
  2. Dusun Watugenuk
  3. Dusun Padas Malang
  4. Dusun Karanggatak
  5. Dusun Karangweru
  6. Dusun Sumberagung
  7. Dusun Kedungwiyu
  8. Dusun Guyuban

Selain menerima wilayah baru, Desa Sarimulyo juga menerima gelombang warga pendatang yang terpaksa pindah karena rumah mereka tergenang luapan air waduk.

Mata Pencaharian dan Perekonomian Warga

Mayoritas penduduk Desa Sarimulyo menganut agama Islam dan hidup rukun menjaga tradisi. Sehari-harinya, warga mengandalkan sektor pertanian dan perikanan. Lahan pertanian di desa ini merupakan jenis sawah tadah hujan yang membatasi warga untuk hanya bisa memanen padi satu kali dalam setahun. Sebagai penopang, warga menjadikan tanaman jagung sebagai pilihan utama, serta menanam singkong di pekarangan rumah masing-masing.

Pembangunan Waduk Kedung Ombo juga menciptakan mata pencaharian baru bagi warga, khususnya di Dusun Sumberagung dan Watugenuk, yang beralih menjadi nelayan dadakan. Pada dasarnya, mereka tidak memiliki latar belakang sebagai nelayan. Oleh karena itu, profesi ini sangat dinamis; ketika debit air waduk sedang menyusut, para nelayan ini akan kembali menggarap lahan sebagai petani yang merupakan mata pencaharian asli mereka.

Infrastruktur dan Tantangan Desa

Secara ekonomi, kehidupan sebagian masyarakat Desa Sarimulyo masih berada di bawah garis kemiskinan. Kendala utamanya adalah sarana dan prasarana yang sangat tidak mendukung, terutama kondisi jalan-jalan desa yang masih buruk.

Seluruh aktivitas perekonomian dan mobilitas antar-dusun bermuara pada satu akses jalan utama yang bertindak sebagai denyut nadi ekonomi desa. Mengingat peran vitalnya, perbaikan infrastruktur jalan dan peningkatan fasilitas publik terus dijadikan prioritas utama pembangunan desa demi mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran (sarimulyo) bagi seluruh warganya.